Falsafah Hidup Jawa : Rahasia Numerologi Jawa
Oke, tanpa basa-basi lagi, simak artikelnya... enjoy...
Hari, Neptu, dan Watak
Numerologi Jawa sering disebut petung (perhitungan). Perhitungan tersebut merupakan pertimbangan memet (sungguh-sunggguh), memanfaatkan nalar jelas, dan disertai laku tertentu. Petungan berarti pertimbangan yang jernih. Dalam Petungan terkandung pengertian kalkulasi, penafsiran (appraisal), dan pertimbangan (judgement). Petungan Jawa lebih khas dibanding perhitungan budaya lain. Karena, didalamnya memasukkan hal-hal yang rasional dan irrasional.Dalam kehidupan orang Jawa, petungan menjadi jati diri. Petungan telah lekat dan sulit dihilangkan dalam benak mereka. Karenanya, segala sikap dan perilaku orang Jawa selalu bernuansa petungan. Petungan termaksud biasanya didasarkan atas peredaran matahari, bulan, bintang, dan planet lain untuk meramal nasib manusia. Ilmu yang populer dalam menghitung nasib baik dan buruk orang Jawa tersebut dinamakan astrologi. Lepas dari cocok tidaknya sebuah hasil petungan, orang Jawa tetap sulit meninggalkan pola pikir tersebut. Maka boleh dinyatakan bahwa orang Jawa selalu mengggunakan petungan dalam gerak dan langkah hidup, agar dirinya selamat dari gangguan adikodrati.
Hari dalam perhitungan (numerology) Jawa berjumlah tujuh, lalu disebut dina pitu, dan pasaran berjumlah lima disebut pasaran lima. Atau sering disingkat dina lima dina pitu. Keduanya akan menentukan jumlah neptune dina (hidupnya hari dan pasaran). Masing-masing hari dan pasaran memiliki nilai angka yang dapat digunakan untuk meramal berbagai hal.
Nilai angka nama-nama hari yaitu: Senin = 8, Selasa = 3, Rabu = 7, Kamis = 8, Jumat = 6, Sabtu = 9. Nilai angka pasaran: Legi = 5, Paing = 9, Pon = 7, Wage = 4, dan Kliwon = 8. Rupa-rupanya para pengamat budaya Jawa masih kesulitan menjelaskan secara logis tentang nilai-nilai angka tersebut. Umumnya orang Jawa hanya taat pada budaya tradisi leluhur, tanpa ada upaya untuk memecahkan persoalan tersebut. Akibatnya, perhitungan angka demikian selamanya masih misterius.
Dalam buku Baboning Primbon Jawa, Primbon Betal Jemur, Horoskop Jawa, Pawukon, dan sebagainya belum (mampu) atau memang enggan menjelaskan misteri hidupnya hari dan pasaran. Karenanya, orang Jawa sendiri sering bertanya-tanya dalam hati mengapa hari dan pasaran memiliki nilai angka sakral demikian? Saya agak sedikit lega, pada waktu membaca Primbon Sabda Pandhita karya R. Tanojo, kendati didalamnya baru sedikit, diuraikan tentang awal mula hidupnya hari dan pasaran. Meskipun pandangan dia masih susah diikuti, tetapi telah membuka pikiran kita bahwa hari dan pasaran itu ditentukan melalui olah pikir Jawa yang genius. Secara rinci, terjadinya perhitungan hidupnya hari dan pasaran dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Dari tabel tersebut dapat dipahami, mengapa hari dan pasaran memiliki watak tertentu. Perhitungan tabel di atas juga ada neptuning dina yang amat rahasia, yaitu berjumlah 11. Tampaknya angka ini dianggap sakral dalam perhitungan Jawa. Hidupnya pasaran juga tak ada yang bernilai 6, ini mungkin menggambarkan bahwa angka 6 adalah bilangan rahasia dalam budaya Jawa.
Jika ditelusur lebih jauh lagi, dapat dimengerti asal-usul hari dan pasaran. Yakni, Sabtu menjadi akhir hari dina dan Legi menjadi awal mula pasaran. Keduanya secara filosofi menggambarkan awal-akhir dunia. Sabtu, berari akhir hari (mengakhiri). Akhir kebodohan yaitu pandai, ini sebagai perilaku ening. Akhir dari pencarian ngelmu, adalah bodoh sampai pandai (bontos ing kawruh). Sedangkan Legi, sebagai awal pasaran. Ini merupakan gambaran permulaan pandai dari kebodohan, yaitu perilaku budi. Maka Sabtu Legi sebagai gambaran perburuan ilmu. Bodoh dan pandai sebenarnya ada awal dan akhirnya.
Sabtu Legi juga sebagai lambang wasesa segara, yaitu akhir budi, juga permulaan hidup. Mulai lahir dari kandungan ibu, manusia telah diberi anugerah berupa budi. Manusia yang tadinya bodoh akan menjadi pandai. Melalui budi tersebut manusia mampu mencapai keluhuran hidup di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika manusia tidak mau mengasah budi, akan bodoh seperti kerbau. Jika bodoh, jelas akan menjadi kendala hidup. Orang yang cerdik mngasah budi, ibarat wong lumpuh ngideri jagad. Maksudnya, meskipun manusia tadi tak mampu sampai kemana-mana, jika budinya berkembang dan luhur, akan mengetahui apa saja dan dimana saja.
Hari Ahad Paing, dilambangkan sebagai satriya wibawa. Yakni sebagai kekuatan budi. Jika ada bayi yang lahir pada hari tersebut, jika kuwat menjalankan laku, bisa mengolah budi, akan menjadi satria yang bijaksana. Sebaliknya, jika gagal mengasah budi akan menjadi satriya wirang. Maksudnya, hidupnya akan menanggung malu dan sengsara.
Hari yang paling gawat adalah Senin Pon, karena termasuk hari Sampar Wangke. Ada juga hari semacam ini yang menyebut hari ini Tali Wangke. Hari tersebut dilambangkan bumi pinetak. Maksudnya, manusia mudah apes dan celaka, bahkan sampai meninggal akibatnya jika kurang waspada. Bumi pinetak telah menggambarkan bahwa manusia berasal dari anasir tanah (bumi). Karena itu, manusia pada hari itu harus berhati-hati. Segala sikap dan tindakan seharusnya benar-benar ditata, tak tergesa-gesa, dan orang Jawa berprinsip alon-alon waton kelakon.
Sumber :
http://library.uny.ac.id/sirkulasi/index.php?p=show_detail&id=54620&keywords=Falsafah+hidup+jawa

waw
ReplyDeletekusuka sekali
ReplyDeletepas banget nii aku jawa banget
ReplyDeleteNah sipp, ono sing komen 👍
ReplyDeleteinginku buaca berx x gaes
ReplyDeletelanjutkannn gann awowkwok
ReplyDeleteMembuat bahagia = dapat pahala = masuk surga
ReplyDelete